begitulah kira-kira

12.11.14

Di Bali

Rencana menjadi seorang backpacker sejati emang sudah lama gue idam-idamkan. Hal ini akibat korban cemburu buta melihat blog para backpacker yang sukses berkeliling Indonesia bahkan dunia dengan bujet minim namun masih dapat menikmati perjalanannya. Kepengen merasakan bagaimana rasanya mengendong ransel sambil naik angkutan umum / kereta dengan pantat hampir flat akibat lamanya perjalanan atau bahkan mengalami masa-masa kelam menunggu kereta dengan cara tidur di stasiun kereta.

Gue dengan semangat empatlima yang membara-bara, memutuskan untuk memulai kisah kasih gue menjadi backpacker dengan daerah destinasi Bali. Sebagai orang Indonesia yang konon selalu ditanyain apakah Bali itu Indonesia, gue rasa sudah sepantasnya awal permulaan gue menjadi backpacker dimulai dari Bali.

Setelah browsing internet dengan kekuatan mata (berhubung gue menggunakan paket internet midnight, biar dapet banyak quota) akhirnya gue putusin untuk ke Bali via darat.  Kakak gue, Pingkan berhasil menjadi amigo gue untuk perjalanan fenomenal ini tapi dengan syarat gue bayarin semua biayanya dia. Berat emang, tapi gak apalah kesian juga dia udah terlanjur update status mo ke Bali.

Kita bakal ke Bali dengan kereta ekonomi dari Pasar Senen-Surabaya-Banyuwangi selanjutnya dilanjutkan dengan menyebrang menggunakan feri dari pelabuhan ketapang ke pelabuhan gilimanuk. Kira-kira begitulah planning-nya. Tanpa memesan dahulu tiket kereta kita nekat ke Stasiun Pasar Senen dengan baju seadanya dengan harapan akan mendapatkan tiket kereta dengan harga 55ribu rupiah. Newbie banget gak sih, mana ada kereta ekonomi yang masih tersisa. Tiket kereta yang tersisa ke Surabaya harganya 360 ribu rupiah. Entah atas dorongan iblis apa gue akhirnya membeli 2 tiket ke Surabaya. Ini backpacker model apa coba? Gugur sudah poin penting menjadi seorang backpacker.

Kereta bertolak menuju Surabya tepat pukul 12:15 WIB. Kebetulan kereta dipenuhi oleh tentara yang hendak pulang ke Surabaya selepas mengikuti perlombaan di Jakarta. Selama perjalanan di kasih wingko babat dari teman di kursi sebelah, lumayan. Waktu menunjukkan puluk 23:45 WIB ketika kereta sampai di Stasiun Gubeng Surabaya. Tanpa tiket lanjutan, kita beristirahat (tidur ayam) di Stasiun Gubeng  dengan harapan bisa dapet tiket kereta menuju Banyuwangi di pagi harinya. Btw, di Stasiun kita bertemu dengan seorang tentara asal Manado yang hobi banget ngomong  -_- . Katanya dia bisa ngeramal lah, baca karakter orang lah. Gue cuma berharap dalem hati, Tuhan..semoga gue gak kena hipnotis atau kena tipu. Namun ternyata orangnya memang baik dan hobi bercerita.

Sambil terkantuk-kantuk gue browsing internet dan menemukan kalo tiket Surabaya-Bali 326ribu rupiah. Tanpa pikir panjang  gue ubah rencana. Kita naik pesawat aja menuju Bali. Semakin jelas kalo ini bukan backpacker. Gagal total. Hasilnya kita terbang menuju Bali menggunakan pesawat paling pagi. Kalo di itung-itung ya, sebenarnya lebih mahal. Mending sekalian aja naik pesawat dari Jakarta. Jangan heran, kadang gue juga gak mengerti jalan pikiran diri sendiri kok.

Akhirnya gue menginjakkan kaki di Bali sembari disambut mentari pagi. Btw, karena telah menghabiskan hampir setengah bujet gue untuk transportasi maka dengan berat hati gue putusin untuk berjalan kaki menuju Kuta. Jauh gila men…goyang, goyang deh kaki. Namun inilah kenikmatan menjadi seorang backpacker, gue yang notabennya sama sekali tidak bertubuh atletis sanggup berjalan kaki lumayan jauh dan tidak merasa lelah sedikitpun (boong banget). Bermodalkan google map gue berusaha mencari Losmen Arthawan. Menurut rekomendasi para backpacker kira-kira di sanalah tempat paling murah dan nyaman. Alhamdullilah, gue dapet kamar untuk dua orang dengan harga 100ribu rupiah. Untuk mempermudah gue melakukan eksplorasi Bali, gue menyewa motor yang telah disediakan losmen seharaga 50ribu per hari.

Tidak semua tempat wisata gue kunjungi. Hmm..simpen untuk the next trip. Hal pertama yang gue lakukan setelah beristirahat sejenak di hotel adalah menikmati sunset di Pantai Kuta. Well, sunset tetep sama sih dengan sunset-sunset di tempat lain. Bedanya disini banyak banget turis yang berjemur dan surfing.





Hari berikutnya gue mengunjungi Tanah Lot. Kebetulan ada kecelakaan lalu lintas, hasilnya?? Macet gila!! Tapi semua terbayarkan setelah melihat keindahan Tanah lot.



Sebelum kembali ke Kuta, gue menyempatkan diri mengunjungi Taman Ayun Mengwi. Gak kalah kece kok.



Gue memutuskan untuk makan siang di daerah Kuta. Tanpa mengenal lelah gue pun kembali ke daerah Kuta untuk mencari Nasi pedas ibu Andika yang sangat terkenal itu. Maknyos pedasnya. Setelah makan gue menyempatkan diri mengunjungi tempat penjualan kaos Joger yang kebetulan bersebrangan dengan Nasi pedas Ibu Andika.

Sore hari gue bertekad untuk melihat sunset di Pura Uluwatu. Hasilnya? Yep lumayanlah nemu sunset disana.




Malamnya gue makan malam di Jimbaran sambil menikmati deru ombak, tarian khas Bali serta para penyanyi yang sanggup menyanyikan berbagai jenis lagu dan bahasa. Nikmat banget emang.


Hari berikutnya gue mengunjungi Goa Gajah. Begitu tenang. Recommended banget buat kalian yang sedang berada di daerah Ubud dan menyukai kedamaian (silent).








Kira-kira begitulah perjalanan gue yang berliku dan penuh peluh di Bali. Gak banyak tempat yang gue kunjungi. Tadinya pengen ke GWK, eh ternyata sudah tidak ada lagi pertunjukkan karena kebetulan gue sampai disana sekitar pukul 7 malam. Yaudah deh gak jadi masuk. Untuk wisata laut sendiri gak gue lakuin. Mengapa? Karena gue sejujurnya agak bosan dengan laut dan pantai. Gue lebih memilih wisata yang lebih tenang (ibu-ibu banget gak sih? Haha).

Satu hal yang penting, next trip gue sih lebih memilih berlibur di ubud. Yah, kalau sempet sih..ngumpulin duitnya dulu kali ya.

Pulang ke Jakarta gue tempuh dengan via darat juga. Gue masih gak kapok tuh naik kereta walaupun pantat gue nyaris hilang bentuknya. Gue naik bis (mirip metromini) dari Stasiun Ubung menuju Pelabuhan Gilimanuk dengan harga 30ribu per orang. Perjalannya lumayan lama…3-4 jam gitu deh. Hadeh, semakin flat aja nih pantat. Tips gue, hati-hati di Stasiun Ubung ya. Banyak banget calo setres.  Setelah sampai di Gilimanuk, gue naik feri ke Pelabuhan Ketapang dengan harga 8ribu per orang. Perjalanannya kira-kira 45 menit.

Seperti yang kalian duga, gue tidak memesan tiket kereta sebelumnya. Akhirnya gue kehabisan tiket kereta ekonomi menuju Surabaya. Untungnya masih ada tiket kereta bisnis dengan harga 150ribu per orang. Huhu, semakin kabur aja nih definisi backpacker dalam perjalanan ini. Yasudahlah gue akhirnya naik kereta menuju Surabaya dan kemudian melanjutkan lagi perjalanan menuju Jakarta setelah bermalam sambil tidur-tidur ayam di Stasiun Gubeng Surabaya.

Dari perjalanan nan absurd ini, gue mengambil beberapa hikmah,yaitu:

  1. Rencanakanlah perjalanan anda. Cari sebanyak mungkin informasi tentang tempat yang akan dikunjungi. Booking tiket pulang pergi, ini wajib hukumnya.
  2. Gak perlu tuh Hotel mahal, toh kita bakalan banyak idup di luar kan.
  3. Kalo bisa sih bawa barang secukupnya biar ransel jangan keberatan.
  4. Bawa obat. Gue saranin bawa imboost force-ta deh.
  5. Jangan menggunakan baju yang mencolok. Inget ini backpacker loh. Demi keamanan diri sendiri sih.
  6. Jangan malu buat bertanya.
  7. Makan dengan harga paling murah, tapi liat-liat juga kali tempat makannya. Jangan sampai sakit perut. Murah dan bersih pastinya.
  8. Jangan lupa bawa kain tipis dan obat nyamuk untuk jaga-jaga kalo terpaksa tidur di Stasiun.
  9. Bawa duit secukupnya.
  10. Hati-hati sama orang asing.
  11. Pastikan hape selalu aktif untuk menguhubungi orang rumah tentang posisi terakhir.

0 comments:

Posting Komentar

Counting

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
A mid-twenty something years old , not yet a woman.

Find Me on Instagram

Follower